STAI Syekh Jangkung


Berilmu, Beradab, Berbudaya

Tantangan Sarjana Sejarah Islam

Oleh: Muhamad Yusrul Hana, M.Hum.

Muhamad Yusrul Hana, M.Hum.

Ketika kita mendengar kata sejarah, pasti yang terlintas dibenak kita adalah sesuatu yang silam, lama, kenangan, artefak, bahkan sesuatu yang tua. Sebenarnya sejarah menjadi hal yang asasi di masa sekarang, khususnya sejarah Islam, mengapa ?

Kuntowijoyo mengartikan sejarawan seperti seorang yang duduk digerbong kereta yang melaju, sedang orang itu menghadap kebelakang. Orang tersebut selalu melihat masa lalu meskipun diberi keleluasaan untuk bisa menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi tidak bisa melihat masa depan dengan jelas.

Sejarah memang begitu adanya, kajiannya selalu berkaitan dengan peristiwa pergerakan manusia yang terbatas oleh ruang dan waktu di masa lalu. Namun, sejarah bisa menjadi refleksi bagi kehidupan masa kini dan akan datang dengan berdasar dari gerak kehidupan masyarakat masa lalu.

Apabila merujuk kepada kata-kata mutiara “carilah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat”, hal ini merepresentasikan bahwa manusia harus menemukan dan mencari keilmuan apapun semasa hidupnya. Meskipun kita juga harus menyadari ada sebuah keterbatasan yang ada pada diri seorang manusia untuk mempelajari berbagai hal.

Namun belajar sejarah khususnya sejarah Islam itu penting, karena belajar sejarah Islam adalah sebuah jembatan penghantar untuk mengenal Islam lebih jauh, baik dalam konteks normatif maupun historisnya.

Permasalahan selanjutnya adalah apakah bisa sejarah menjawab permasalahan masa kini dengan pendekatan ke-Islaman ? dan mengapa ada kata Islam dalam studi kesejarahan ?.

Pertama, kata Islam digunakan karena lembaga yang menaungi jurusan sejarah Islam adalah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam. Maka keilmuan sejarahnya tentu harus berkenaan dengan kajian dan pengembangan sejarah Islam. Sangat relevan apabila pemahaman kesejarahan ini dikorelasikan dengan pendekatan studi Islam.

Dalam menjawab pertanyaan di atas kita harus merujuk pada Islam pada level historis, artinya Islam sebagai produk historis (tentang manusia yang selalu mengalami perubahan). Artinya Islam yang dipahami dan yang dipraktikkan dari masa Nabi Muhammad SAW sampai sekarang.

Dalam mendekati permasalahan kajian sejarah Islam, perlu menggunakan sebuah metode pendekatan yang benar. Dalam mengkaji suatu fenomena sejarah yang problematik, penyelesaian masalah harus merujuk kepada pandangan ilmiah yang sesuai dengan metode sejarah.

Penulis menawarkan dua pendekatan dalam menjawab masalah kajian sejarah Islam, yaitu normatif studies dan empirical studies.

Normatif studies adalah studi keilmuan yang menggunakan dasar al-Quran dan as-Sunnah sebagai rujukannya. Sedangkan Empirical studies adalah studi keilmuan menggunakan pendapat atau tafsiran para pakar terhadap suatu fenomena yang ada di masyarakat.

Melihat gerak sejarah manusia dalam kajian normatif akan memberikan korelasi yang dinamis mengenai motivasi manusia dalam menjalankan kehidupannya. Studi sejarah Islam juga disempurnakan dengan koherensi empirik dari penemuan sebelumnya. Hal ini juga membuka peluang kita untuk mengkritisi pendapat ahli dalam bidang kajian yang sama.

Cara mendekati sebuah masalah dengan benar dan cara berpikir rasional merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh sarjana sejarah Islam, selain penguasaan konsep dan teori dalam ilmu lain.

Tugas pertama seorang sarjana dan peneliti sejarah Islam adalah menguasai metode dan pendekatan yang baik di dalam semua penelitiannya. Beberapa hal tersebut merupakan dasar yang harus dibangun dalam dunia keilmuan sejarah Islam.

Masa modern ini memberikan peluang bagi ilmu sejarah Islam untuk menjawab tantangan zaman dengan argumentasi rasional disertai dengan pembuktian empiris. Berpikir secara historis mempunyai implikasi kultural yang berjangkar dalam sendi kehidupan bangsa.

Akhirnya, cara berpikir historis perlu dikembangkan dalam kehidupan kita, khususnya masyarakat akademik. Agar kita mampu menangkap fenomena sekarang dengan sudut pandang masa lalu. Bahwa pengetahuan dan kesadaran masa kini hanya dapat dipahami dengan membuka lembaran peristiwa masa lalu.

Informasi Lainnya

Mahasiswa Prodi PIAUD STAI Syekh Jangkung Akan Menggelar Pagelaran Karya Sebagai Tugas Akhir Perkuliahan

Mahasiswa Prodi PIAUD STAI Syekh Jangkung akan menggelar Pagelaran Karya pada hari Rabu, 09 Februari 2022 sebagai Tugas Akhir mata…

Surat Pemberitahuan Pelaksanaan Tes PMB STAI Syekh Jangkung TA 2022/2023 Gelombang 1 dan 2

Pelaksanaan tes Penerimaan mahasiswa baru STAI Syekh Jangkung dapat dilihat pada surat pemberitahuan berikut ini Link surat pemberitahuan pelaksanaan Tes…

Pendaftaran Akun E-Learning Mahasiswa

STAI Syekh Jangkung akan menggunakan platform pembelajaran E-Learning yang dapat diakses di https://elearning.staisyekhjangkung.ac.id/ , untuk mendukung terlaksananya pembelajaran yang memanfaatkan…

Leave a Comment

three × five =