STAI Syekh Jangkung


Berilmu, Beradab, Berbudaya

Wahid Hasyim Untuk Republik dari Tebuireng

Catatan Membaca Seri Buku Tempo
Wahid Hasyim
Cetakan Pertama, Mei 2011
Terbitan KPG

Oleh

Siti Nur Aisyahtur Ozana
Prodi Sejarah Kebudayaan Islam
STAI SYEKH JANGKUNG

Abdul Wahid Hasyim lahir pada 1 Juni 1914. Beliau merupakan anak kelima dan anak laki-laki pertama K.H Hasyim Asy’ari dan Nyai Nafiqoh. Semula K.H Hasyim Asy’ari memberi nama putranya Muhammad Asy’ari. Nama itu diambil dari nama kakeknya. Tapi sebulan kemudian nama itu diganti. Asy’ari kecil sering sakit hingga tubuhnya makin lama makin kurus. Nama itu dianggap terlalu berat disandang sang bayi. K.H Hasyim Asy’ari kemudian menggantinya nama putranya menjadi Abdul Wahid Hasyim.

Wahid kecil memiliki kemampuan yang tak sama dengan anak lain. Ia cerdas dan cepat menyerap semua pelajaran yang diberikan. Karena cepatnya ia menyerap ilmu, pada usia 12 tahun, setamat dari Madrasah Tebuireng, ia sudah bisa mengajar. Murid pertamanya adiknya sendiri Abdul Karim Hasyim. Sambil mengajar adiknya pada malam hari, biasanya ia belajar dan membaca buku-buku dalam bahasa Arab.

Wahid juga dikenal memiliki khos (kekhususan) dalam dirinya. Ia pernah mempertunjukkan kelebihannya itu dengan naik ke punggung harimau dan harimau itu tidak melawannya.

Meski dikenal sebagai anak yang sopan dan patuh kepada orang tua, saat remaja ia membuat geger pesantren lantaran muncul bercelana panjang. Tingkah lakunya itu membuat ayahnya berang. Tapi Wahid bersikukuh, menyatakan memakai celana tidak melawan agama. Sang ayah pun mengalah dan membiarkan anaknya tersebut bergaya seperti caranya sendiri.

Ia tidak pernah bersekolah formal tetapi menguasai sejumlah bahasa. Sejak usia 12 tahun Wahid selalu berpuasa dan setiap malam ia melaksanakan sholat Tahajud. Pada usia 18 tahun, Wahid pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dan mendalami ilmu Tafsir, Hadits, Nahwu, Shorof serta Fikih. Dua tahun kemudian ia kembali ke Jombang, kemudian namanya lebih dikenal dengan K.H Wahid Hasyim.

Sepulang dari Mekkah Gus Wahid diminta ayahnya untuk membantu mengajar dan membimbing para santri. Kehadirannya di pondok pesantren membawa pencerahan. Beliau mengusulkan kepada ayahnya untuk perombakan kurikulum pendidikan klasikal ke tutorial. Ide tersebut sempat ditolak, tapi kemudian diterima. Dan berdirilah Madrasah Nuzamiyah. Pelajarannya menggunakan tiga bahasa yaitu Arab, Belanda, dan Inggris.

Pada usia 24 tahun Wahid Hasyim menikah dengan Solehah. Dari pernikahan tersebut dikaruniai enam anak yaitu, Abdurrahman Ad-Dachil (Gus Dur), Aisyah, Salahuddin Al-ayyubi (Gus Solah), Umar Wahid, Lily Wahid, dan Hasyim Wahid (Gus Lim).

Tumbuh dalam iklim demokratis anak-anak Wahid Hasyim berkembang dengan pilihan politik yang berbeda ada yang bergabung dengan Nahdlatul Ulama ada juga yang memiliki Masyumi.

Gus Wahid setiap hari menghabiskan waktu sekitar lima jam untuk membaca buku. Bagi Wahid, lulusan Pesantren Tebuireng tidaklah harus menjadi seorang ulama. Menurutnya, yang terpenting mereka harus menjadi sosok manusia berwawasan yang bisa membangun dan mendidik masyarakat.

Wahid Hasyim menitih karier dari bawah di organisasi Islam. Pada usia 25 tahun, ia terpilih menjadi ketua Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI). Organisasi ini merupakan satu-satunya perkumpulan yang diperbolehkan Jepang saat berkuasa. Ia menerapkan politik santun kepada Jepang. Ia dan sang ayah berstrategi menghadapi Jepang agar umat Islam tidak terus ditekan.

Kepiawaiannya dalam berorganisasi dan berpolitik serta komitmennya untuk memajukan negeri itulah yang membuat Wahid di percaya NU sebagai wakil dari BPUPKI, PPKI dan Masyumi. Kemudian pada tahun 1947, ia dipercaya memimpin Pondok Pesantren Tebuireng menggantikan sang ayah.

Pada bulan November 1947 Wahid Hasyim bersama Muhammad Natsir menjadi pelopor umat Islam Indonesia yang diselenggarakan di Yogyakarta. Dalam kongres itu di putuskan pendirian Masyumi dan Ketua Masyumi pertama adalah K.H Hasyim Asy’ari. Namun beliau melimpahkan tugasnya tersebut kepada kyai Wahid.

Bersama para pemimpin pergerakan nasional seperti Bung Karno dan Hatta, mereka membujuk Jepang untuk memberikan latihan militer khusus kepada para santri serta mendirikan barisan pertahanan rakyat secara mandiri. Inilah cikal bakal berdirinya Laskar Hizbullah dan Sabilillah. Kedua laskar ini ikut bertempur melawan sekutu.

Kyai Wahid Hasyim merupakan tokoh termuda dari sembilan tokoh nasional. Saat menjadi anggota panitia sembilan di BPUPKI dan PPKI, Wahid Hasyim memegang peranan penting dalam menjembatani pertentangan antara kelompok Islam dan kelompok nasionalis yaitu penghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang berbunyi “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Dan menggantinya menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa”. Dengan peran dan pengaruhnya yang besar K.H Wahid Hasyim dipercaya menjadi menteri dalam tiga kabinet.

Sabtu, 18 April 1953 Kyai Wahid Hasyim bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Beliau ditemani tiga orang yakni sopirnya, rekannya Argo Sutjipto, dan putra sulungnya Abdurrahman Ad-Dachil (Gus Dur). Kyai Wahid duduk di belakang bersama Argo Sutjipto.

Daerah di sekitar Cimahi waktu itu diguyur hujan lebat sehingga jalan licin. Sekitar pukul 13.00 ketika memasuki Cimandi, sebuah daerah antara Cimahi Bandung, mobil yang ditumpangi Kyai Wahid selip dan sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Di belakang banyak iringan-iringan mobil. Sedangkan dari arah depan sebuah truk melaju kencang terpaksa berhenti begitu melihat ada mobil berjalan zig-zag.

Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup kencang, bagian belakangnya membentur badan truk dengan keras. Ketika terjadi benturan, Kyai Wahid dan Argo Sutjipto terlempar ke bawah truk. Keduanya luka parah, sedangkan sopir dan Gus Dur tidak mengalami cidera. Mobilnya hanya rusak bagian belakang dan masih bisa berjalan seperti semula.

Di sisi lain, Kyai Wahid dan Argo kemudian dibawa ke rumah sakit Boromeus Bandung. Sejak mengalami kecelakaan keduanya tidak sadarkan diri. Keesokan harinya, Ahad 19 April 1953 pukul 10.30 K.H Abdul Wahid Hasyim dipanggil kehadiran Allah SWT dalam usia 39 tahun, sehari sebelum Argo Sutjipto meninggal. Jenazah Kyai Wahid kemudian dibawa ke Jakarta lalu diterbangkan ke Surabaya dan selanjutnya di bawa ke Jombang untuk dimakamkan di Pondok Pesantren Tebuireng.

Kyai Wahid Hasyim meninggalkan seorang istri, yaitu Ibu Nyai Solehah dan enam orang anak, yakni Abdurrahman Ad-Dackil (Gus Dur), Aisyah Wahid, Salahuddin Al-Ayyubi (Gus Solah), Umar Wahid, Lily Chodijah Wahid, dan Hasyim Wahid. Atas jasa-jasanya K.H Abdul Wahid Hasyim di beri gelar Pahlawan Nasional.

Informasi Lainnya

Dosen STAI Syekh Jangkung Tulis Buku Sejarah Caping Kalo

Tiga dosen STAI Syekh Jangkung terlibat dalam penulisan buku caping kalo. Buku yang diterbitkan Kompas itu diluncurkan tadi malam (14/10)…

Lowongan Dosen Tetap Prodi Sejarah dan Kebudayaan Islam STAI Syekh Jangkung

Mahasiswa PIAUD STAI Syekh Jangkung Berkreasi Menciptakan Busana Tari

Pendidikan seni rupa pada Prodi PIAUD membekali mahasiswa dengan berbagai keterampilan. Tujuannya adalah jika sudah terjun ke Lembaga Paud, maka…

Leave a Comment

twenty + 19 =